1. Pengertian Kebenaran
Kata Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu
kata benda yang kongrit maupun abstrak. Jika subyek hendak menuturkan kebenaran
artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung
dalam suatu pernyataan atau stitmen. Apabila subjek mengatakan kebenaran bahwa
proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas sifat atau karakteristik,
hubungan hal yang demikian itu sarana kebenaran tidak dapat begitu saja
terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
Menurut Plato Kebenaran sebagai suatu ketakter
tersembunyian adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia
ini. Menurut Aritoteles dapat memahami kebenaran
lebih memusatkan perhatiannya pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subjek
penahu ketika ia menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif
itu tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam
diri subjek penahu itu sesuai atau tidak dengan kenyataannya. Di sini kebenaran
dimengerti sebagai persesuaian antara subjek sipenahu dengan objek yang diketahui.
Pengertian kebenaran dapat dibedakan antara
kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
Ø Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara
faktual didunia nyata, sebagaimana di alam manusia ( biasanya dengan dapat –
tidaknya dia nanti secara indrawi apa yang dinyatakannya_ Misalnya apakah
pernyataan bumi itu bulat, merupakan suatu pernyataan yang memiliki kebenaran.
Kebenaran faktual adalah kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan tentang
alam semesta. Sejauh dapat kita alami secara indrawi.
Ø Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis dan
tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia ini, tetapi dapat merupakan
sarana berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang berarti tentang dunia
ini. Dengan kata lain dapat membantu untuk memperoleh pengetahuan yang memiliki
kebenaran faktual. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang terdapat dalam logika
dan matematika kebenaran di sini bedasarkan atas suatu penyimpulan terdeteksi
sehingga berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi dan mentak,
kebenaran, ‘nalar bersifat mutlak.
B. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya
Berdasarkan scope potensi subjek,
maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi empat tingkatan diantaranya :
1. Tingkatan kebenaran indera adalah
tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2. Tingkatan ilmiah,
pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula
dengan rasio
3. Tingkat filosofis,rasio dan pikir
murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak
yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas
dengan iman dan kepercayaan
Manusia selalu mencari kebenaran,
jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula
untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu
yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya
dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang
dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
Jenis-jenis Kebenaran :
1. Kebenaran Epistemologi (berkaitan
dengan pengetahuan)
2. Kebenaran ontologis (berkaitan
dengan sesuatu yang ada/ diadakan)
3. Kebenaran semantis (berkaitan
dengan bahasa dan tutur kata)
Manusia selalu mencari kebenaran,
jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula
untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu
yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya
dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang
dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.Kebenaran agama yang ditangkap dengan
seluruh kepribadian, terutama oleh budi nurani merupakan puncak kesadaran
manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebnarna itu bersal dari Tuhan Yang
Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah
satu subyek dengna integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki
status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas
kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan
pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang dimana di
dalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk
dijalankan oleh manusia.
2.
Cara
penemuan kebenaran
Cara untuk menemukan kebenaran berbeda-beda.
Dari berbagai cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat cara yang ilmiah dan
nonilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran sebagaimana diuraikan oleh
Hartono Kasamadi, dkk, (1990) sebagai berikut:
a. Penemuan Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan
adalah penemuan yang berlangsung tanpa disengaja. Dalam sejarah manusia,
penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya
tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja dan
tanpa rencana. Cara ini tidak dapat
diterima dalam metode keilmuan untuk menggali pengetahuan atau ilmu.
b. Penemuan “Coba dan Ralat” (Trial Dan Error)
Penemuan coba dan ralat terjadi tanpa
adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari.
Memang ada aktifitas mencari kebenaran, tetapi aktifitas itu mengandung unsure
spekulatif atau “untung-untungan”.
Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan waktu yang lama, karena memang
tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuanya. Cara coba dan ralat
inipun tidak dapat diterima sebagai cara ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan
kebenaran.
c. Penemuan melalui Otoritas atau Kewibawaan
Pendapat
orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai
kedudukan dan kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu
tidak didasarkan kepada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada
gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan
baru bagi orang-orang yang menyangsikanya. Namun demikian adakalanya pendapat
itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenaranya. Dengan demikian pendapat pemegang
otoritas itu bukanlah pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan hanya
berdasarkan pemikiran.
d. Penemuan secara spekulatif
Cara ini mirip dengan cara coba dan ralat.
Akan tetapi, perbedaanya dengan coba dan ralat memang ada. Seseorang yang
menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan secara spekulatif,
mungkin sekali ia membuat sejumlah alternative pemecahan. Kemudian ia mungkin
memilih satu instrumen pemecahan,
sekalipun ia tidak yakin mengenai pemecahanya.
e. Penemuan Kebenaran Lewat Cara Berpikir kritis
dan Rasional
Telah banyak kebenaran yang dicapai
oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan kemampuan berpikirnya. Dalam
menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir
yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adalah dengan
cara berpikir analitis dan cara berpikir sintetis.
f. Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara mencari kebenaran yang dipandang
ilmiah ialah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adalah penyaluran
hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada
taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat,
dan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasanya secara ilmiah.
Pada setiap penelitian ilmiah melekat cirri-ciri umum, yaitu pelaksanaanya
yang metodis harus mencapai suatu kesseluruhan yang logis dan
koheren. Cirri lainya adalah
universalis. Setiap penelitian ilmiah harus objektif, artinya terpimpim
oleh objek dan tidak mengalami distorsi
karena adanya berbagai prasangka subjektif.
3. Contoh kasus kebenaran dan alasanya
1. Ibu dan anaknya minum susu kemasan
2. Anak yang sakit setelah meminum susu kemasan
3. Polisi menelusuri kasus
4. Perusahaan yg memproduksi susu kemasan
Sketsa :
- Suatu hari ada
ibu dan anaknya sedang istirahat makan siang,si ibu memberi anaknya minuman
susu kemasan. (fakta)
- Setelah meminum
susu tersebut sang anak keracunan,setelah di periksa ternyata di dalam kemasan susu itu terdapat gumpalan yang
menyerupai kaki katak.(fakta)
- Ibu dari anak tersebut
melapor kepada pihak berwajib. (Informasi)
-
Pihak berwajib
menelusuri kasus tersebut hingga ke perusahan susu kemasan itu, (data
- setelah
di lakukan pengujian barang bukti berupa gumpalan susu itu, ternyata gumpalan
itu bukan kaki katak,namun endapan lemak susu yang menyerupai kaki katak. (kebenaran)
sumber :
http://dimsologi.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-kebenaran.html