Jumat, 18 Maret 2016

Contoh latar belakang masalah


Contoh latar belakang masalah 
 


Pengaruh Keberadaan Pengamen Terhadap  Keamanan Kota Surakarta



A.     Latar Belakang
Banyaknya permasalahan yang muncul di perkotaan salah satunya yaitu munculnya fenomena pengamen yang semakin meningkat jumlahnya. Beberapa tahun terakhir ini banyak orang yang menjalani pekerjaan sebagai pengamen, mulai dari kalangan yang sudah tua, orang dewasa, para remaja hingga anak-anak. Para pengamen ini seolah-olah pasrah dengan nasibnya, mereka tidak berusaha mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari hanya menjadi seorang pengamen, bahkan sebagian besar orang yang menjalani pekerjaan mengamen merasa nyaman dengan pekerjaannya, karena mereka menganggap pekerjaan mengamen itu mudah dan tidak menguras pikiran ataupun tenaga yang banyak.
Fenomena merebaknya pengamen ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Dapat dibayangkan, apa jadinya sebuah bangsa apabila generasi mudanya banyak yang berjiwa pengemis dan penuh kemalasan tanpa ada usaha keras untuk mencapai sesuatu yang lebih berarti.
Menurut artikel yang diungkapkan oleh Solopos.com (2009) jumlah pengamen di Surakarta dalam akhir tahun 2009 ini mengalami pembengkakan hingga mencapai 20% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengamen terbanyak yaitu di dominasi oleh para pemuda dan orang tua kisaran usia antara 20 hingga 40 tahun. Koordinator pendampingan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Keluarga Pengamen Surakarta (Kapas) juga menjelaskan bahwa dari hasil pendataan yang telah dilakukan terhadap para pengamen yang tersebar di sejumlah titik di Surakarta, didapatkan data jumlah pengamen yang telah masuk yaitu mencapai 350 orang, dan dari jumlah tersebut 60% adalah para pengamen pemuda dan orang tua yang usianya berkisar antara 20 tahun hingga 40 tahun. Para pengamen tersebut berada di tiga titik, yakni perempatan Panggung, Jebres,  dan kawasan Pasar Ngemplak. Mereka rata-rata tidak mempunyai keluarga di Surakarta.
Pengamen jalanan seringkali dianggap sebagai “sampah masyarakat”, karena baik pemerintah maupun masyarakat merasa terganggu oleh kehadiran mereka yang lalu lalang di perempatan lalu lintas, di pinggir jalan, di sekitar gedung perkantoran, pertokoan, dan tempat-tempat lain yang seringkali dijadikan tempat beroperasi.
Pada tanggal 18 Januari 2011 melalui berita Solopos.com (2011), menginformsikan bahwa Jajaran Polsek Laweyan telah menggulung 22 pengamen dan pengemis yang beroperasi di beberapa titik di Laweyan, Selasa 18 Januari 2011. Puluhan pengamen dan pengemis tersebut digulung, lantaran dianggap sudah meresahkan warga Kota Bengawan. Operasi Pekat diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan ketentraman warga sekitar, karena puluhan pengamen dan pengemis yang didominasi dari anak-anak punk tersebut terkadang memaksa warga yang sedang melintas untuk dimintai sejumlah uang.
Banyaknya kriminalitas juga seringkali dikaitkan dengan pengamen jalanan, karena di beberapa kesempatan mereka terlihat melakukan tindak-tindak kriminalitas seperti pencopetan, perampasan, melakukan tindak kekerasan, penodongan,pelecehan seksual, perkelahian, dan masih banyak kejahatan lain yang rentan dilakukan oleh pengamen jalanan.
Berita yang ditulis Solopos.com menginformasikan bahwa sebanyak empat orang pengamen jalanan harus berurusan dengan polisi karena merampas barang milik korbannya di simpang empat Jl A Yani, Sumber, Banjarsari, Surakarta, Jumat 12 November 2010. Keempat pengamen itu adalah Ak alias Bengkong, 15, warga Gembongan, Kartasura, Sukoharjo, Aq alias Torong, 16, Kadipiro, Banjarasari, Fy alias Pendek, 17, Nusukan, Banjarsari, dan Srt alias Gotil, 15, Kadipiro, Banjarsari. Barang bukti berupa uang Rp 7.000, ikat pinggang, syal, dan ponsel Nokia 5130 hasil kejahatan telah disita petugas.
Berdasarkan penelitian sementara banyak pengamen di Surakarta tepatnya di daerah Manahan dan Sriwedari yang mengamen hanya sekedar untuk mendapatkan uang saja tanpa menyuguhkan lagu atau musik yang enak di dengar, bahkan hanya bergumam. Hal tersebut apabila tidak diberi uang, maka mereka akan “berkata kasar” atau bahkan berbuat yang menyimpang dari norma.
Maka dari itu di perlukan adanya campur tangan dari pemerintah kota untuk membina, mendidik, dan menata para pengamen di Surakarta misalkan dengan memberikan pelatihan ketrampilan bermain alat musik seperti yang dilakukan Pemkot Jogjakarta agar mereka bisa mengamen dengan tertib, terorganisir, sehingga dapat menekan tingkat kriminalitas di negara ini.

Rabu, 02 Maret 2016

KEBENARAN



1.      Pengertian Kebenaran 

Kata Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang kongrit maupun abstrak. Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau stitmen. Apabila subjek mengatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas sifat atau karakteristik, hubungan hal yang demikian itu sarana kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
Menurut Plato Kebenaran sebagai suatu ketakter tersembunyian adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini. Menurut Aritoteles dapat memahami kebenaran lebih memusatkan perhatiannya pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subjek penahu ketika ia menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif itu tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri subjek penahu itu sesuai atau tidak dengan kenyataannya. Di sini kebenaran dimengerti sebagai persesuaian antara subjek sipenahu dengan objek yang diketahui.

Pengertian kebenaran dapat dibedakan antara kebenaran faktual dan  kebenaran nalar.

Ø  Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual didunia nyata, sebagaimana di alam manusia ( biasanya dengan dapat – tidaknya dia nanti secara indrawi apa yang dinyatakannya_ Misalnya apakah pernyataan bumi itu bulat, merupakan suatu pernyataan yang memiliki kebenaran. Kebenaran faktual adalah kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan tentang alam semesta. Sejauh dapat kita alami secara indrawi.

Ø  Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia ini, tetapi dapat merupakan sarana berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang berarti tentang dunia ini. Dengan kata lain dapat membantu untuk memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran faktual. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika kebenaran di sini bedasarkan atas suatu penyimpulan terdeteksi sehingga berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi dan mentak, kebenaran, ‘nalar bersifat mutlak.


B. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi empat tingkatan diantaranya :
1.      Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2.      Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
3.      Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4.      Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan

Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
Jenis-jenis Kebenaran :
1. Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan)
2. Kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan)
3. Kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)

Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh budi nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebnarna itu bersal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengna integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang dimana di dalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia.

2.      Cara penemuan kebenaran
Cara untuk menemukan kebenaran berbeda-beda. Dari berbagai cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat cara yang ilmiah dan nonilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran sebagaimana diuraikan oleh Hartono Kasamadi, dkk, (1990) sebagai berikut:
a.       Penemuan Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung tanpa disengaja. Dalam sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja dan
tanpa rencana. Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali pengetahuan atau ilmu.

b.      Penemuan “Coba dan Ralat” (Trial Dan Error)
Penemuan coba dan ralat terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari. Memang ada aktifitas mencari kebenaran, tetapi aktifitas itu mengandung unsure spekulatif  atau “untung-untungan”. Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan waktu yang lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuanya. Cara coba dan ralat inipun tidak dapat diterima sebagai cara ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran.

c.       Penemuan melalui Otoritas atau Kewibawaan
Pendapat orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu tidak didasarkan kepada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan baru bagi orang-orang yang menyangsikanya. Namun demikian adakalanya pendapat itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenaranya. Dengan demikian pendapat pemegang otoritas itu bukanlah pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan hanya berdasarkan pemikiran.

d.      Penemuan secara spekulatif
Cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaanya dengan coba dan ralat memang ada. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat sejumlah alternative pemecahan. Kemudian ia mungkin memilih satu instrumen  pemecahan, sekalipun ia tidak yakin mengenai pemecahanya.

e.       Penemuan Kebenaran Lewat Cara Berpikir kritis dan Rasional
Telah banyak kebenaran yang dicapai oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan kemampuan berpikirnya. Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adalah dengan cara berpikir analitis dan cara berpikir sintetis.

f.       Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasanya secara ilmiah. Pada setiap penelitian ilmiah melekat cirri-ciri umum, yaitu pelaksanaanya yang  metodis harus mencapai  suatu kesseluruhan yang logis dan koheren.  Cirri lainya adalah universalis. Setiap penelitian ilmiah harus objektif, artinya terpimpim oleh  objek dan tidak mengalami distorsi karena adanya berbagai prasangka subjektif.
 
3.      Contoh kasus kebenaran dan alasanya

       1.      Ibu dan anaknya minum susu kemasan
2.      Anak yang sakit setelah meminum susu kemasan
3.      Polisi menelusuri kasus
4.      Perusahaan yg memproduksi susu kemasan

Sketsa :
  1. Suatu hari ada ibu dan anaknya sedang istirahat makan siang,si ibu memberi anaknya minuman susu kemasan. (fakta)
  2. Setelah meminum susu tersebut sang anak keracunan,setelah di periksa ternyata di  dalam kemasan susu itu terdapat gumpalan yang menyerupai kaki katak.(fakta)
  3. Ibu dari anak tersebut melapor kepada pihak berwajib. (Informasi)
  4.   Pihak berwajib menelusuri kasus tersebut hingga ke perusahan susu kemasan itu, (data
  5. setelah di lakukan pengujian barang bukti berupa gumpalan susu itu, ternyata gumpalan itu bukan kaki katak,namun endapan lemak susu yang menyerupai kaki katak. (kebenaran)
 sumber : 
 http://dimsologi.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-kebenaran.html